HAKIKAT BELAJAR
TINJAUAN ISLAM DAN
PSIKOLOGI
Oleh:
Muhammad Ikhwan Fadilah
(NIM: 1502521481)
Wahyudin Noor (NIM:
1502521482)
TUGAS TERSTRUKTUR
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
ISLAM
Dosen
Pengampu:
Dr. Halimatussa’diyah, M. Si
PASCASARJANA
PRODI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI ANTASARI
BANJARMASIN
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Istilah belajar sebenarnya telah lama dan banyak dikenal. Bahkan
pada era sekarang ini, hampir semua orang mengenal istilah belajar. Namun apa
sebenamya belajar itu, rasanya masing-masing orang mempunyai tangkapan yang
tidak sama. Sejak manusia ada, sebenarnya ia telah melaksanan aktivitas
belajar.
Oleh sebab itu, kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa aktivitas itu telah ada sejak adanya manusia. Mengapa manusia melaksanakan aktivitas belajar ? Jawabannya adalah karena belajar itu salah satu kebutuhan manusia. Bahkan ada ahli yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk belajar.
Oleh sebab itu, kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa aktivitas itu telah ada sejak adanya manusia. Mengapa manusia melaksanakan aktivitas belajar ? Jawabannya adalah karena belajar itu salah satu kebutuhan manusia. Bahkan ada ahli yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk belajar.
Belajar merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku
individu. Salah
satu definisi modern dari
Gintings tentang
belajar menyatakan bahwa belajar adalah pengalaman
terencana yang membawa perubahan tingkah laku. Belajar
dimanifestasikan dengan adanya perubahan tingkah laku, yaitu tingkah laku yang
dapat diamati (Observable behavior).[1]
Perubahan di sini menyangkut perubahan afektif, kognitif & psikomotor.
Jika
berbicara tentang belajar, maka dalam islam sudah diperintakan dalam bentuk
ekplisit dan implisit yang terdapat dalam al-Qur’an, kemampuan untuk belajar
merupakan sebuah karunia Allah yang mampu membedakan manusia dangan makhluk
yang lain. Allah menghadiahkan akal kepada manusia untuk mampu belajar dan
menjadi pemimpin di dunia ini.
Belajar
dalam tinjauan kejiwaan atau psikologi juga beragam dalam
mengeinterpretasikannnya, banyak teori yang memiliki argument tersendiri
dilihat dari sudut pandangnya.
Dalam
makalah yang singkat ini, mencoba untuk menggali hakikat belajar dari
tinjauan islam dan psikologi.
B. Rumusan
Masalah
Ada
beberapa rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:
1.
Apa
pengertian belajar?
2.
Apa Hakikat Belajar Menurut Tinjauan
Psikologi?
3.
Apa Hakikat Belajar Menurut Tinjauan
islam?
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Belajar
Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting
dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Nana Syaodih Sukmadinata
menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui
kegiatan belajar[2].
Belajar merupakan salah satu topik paling penting
dalam psikologi masa kini, namun belajar merupakan konsep yang sangat sulit
untuk didefinisikan. Meskipun demikian beberapa ahli mencoba mendefinisikan
belajar dengan asumsi bahwa definisi tersebut telah mengandung aspek-aspek
utama belajar. Adapun definisi tersebut antara lain :
Secara Etimologis
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, belajar
memiliki arti “berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu”. Definisi ini memiliki
arti bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu,
yang merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya agar mendapatkan ilmu
atau kepandaian yang belum dimiliki sebelumnya. Sehingga dengan belajar itu
manusia menjadi tahu, mengerti, memahami, dapat melaksanakan dan memiliki
sesuatu.
Secara
Terminologis
Secara umum istilah belajar dimaknai
sebagai suatu kegiatan yang mengakibatkan
terjadinya perubahan tingkah laku. Dengan pengertian demikian, maka belajar
dapat dimaknai sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa,
sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih baik.[3]
Di
bawah ini beberapa pengertian belajar menurut para ahli, di antaranya:
1.
Cronbach (1954)
“Learning is shown by
change in behavior as a result of experience”.[4] Belajar
adalah ditunjukan oleh perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil pengalaman.
2.
Kimble (1961)
Belajar adalah sebagai perubahan yang relatif permanen
di dalam behavioral potentiality yang terjadi akibat dari praktik yang
diperkuat.[5]
3. Hilgard
& Bower (1975)
Belajar adalah proses
timbulnya suatu aktivitas ataupun bertambahnya suatu aktivitas, yang terjadi
karena reaksi terhadap situasi yang dialami, sedangkan perubahan tadi bukan
sebagai respon bawaan atau kematangan (maturity) atau keadaan sementara
dari organisme. (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya), jadi belajar adalah
diperolehnya kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru.[6]
4.
Skinner (1985)
Belajar adalah “the teaching learning prosess” yakni bahwa belajar
adalah suatu proses adaptasi atau penyesuain tingkah laku yang berlangsung
secara progresif.[7]
5. Howard
L. Kingsley
“Learning is the process by which behavior (in the
broader sense) is originated or change through practice or trining”.[8]
Belajar adalah proses yang dengannya tingkah laku (dalam arti yang luas)
ditimbulkan atau diubah melalui praktik dan latihan.
6. Chaplin
“Acquisition of
any relatively permanent
change in behavior as a result of
practice and experience”.[9]
Belajar adalah perolehan perubahan
tingkah laku yang relatif menetap atau permanen sebagai akibat latihan dan
pengalaman.
7. Hintzman dalam
The Psychology of Learning and Memory
Belajar adalah suatu perubahan dalam diri organisme,
manusia atau hewan, disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah
laku organisme tersebut.[10]
8. Arthur Reber
Belajar dalam dua
pengertian; (1) Learning as the process of acquiring knowledge. Belajar adalah
sebagai proses memperoleh ilmu
pengetahuan; (2) Learning is a relatively permanent change in respons potentiality which occurs as a result
of reonfeced practice”.[11]
Belajar sebagai suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relative langgeng
sebagai hasil latihan yang diperkuat.
9.
Moh. Surya (1997)
Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang
dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara
keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam
berinteraksi dengan lingkungannya.[12]
Maka dari pendapat para ahli
pendidikan seperti tersebut diatas dapat simpulkan bahwa “belajar adalah
suatu proses kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh seseorang secara sadar
dalam berinteraksi dengan lingkungannya sehingga diperoleh kecakapan-kecakapan
yang baru yang relatif bersifat permanen yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku
didalam dirinya berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan”.
Dari
berbagai definisi para ahli di atas, dapat disimpulkan adanya beberapa ciri belajar, yaitu:
1.
Belajar ditandai dengan perubahan
tingkah laku (change behavior).
2.
Perubahan
tersebut sifatnya relatif permanen, yaitu bertahan cukup lama, tetapi juga
tidak menetap terus menerus, bisa berubah lagi dalam proses belajar selanjutnya
3.
Perubahan
tingkah laku tersebut merupakan hasil dari pengalaman atau latihan, terjadinya
perubahan karena adanya unsur usaha atau pengaruh dari luar.
4.
Perubahan
tersebut tidak harus segera nampak mengikuti pengalaman belajar itu, atau
nampak pada saat itu juga, tapi dapat nampak pada saat lain
B. Hakekat Belajar
Sebelum
membahas mengenai apa hakikat belajar, terlebih dahulu akan diuraikan mengenai
makna hakikat itu sendiri. Secara sederhana hakikat sering disamakan sebagai
sesuatu yang mendasar, suatu esensi, yang substansial, yang hakiki, yang
penting, yang diutamakan dan berbagai makna yang sepadan dengan pengertian
tersebut. Akan tetapi, tidaklah cukup apabila hanya mengacu kepada pengertian
yang sederhana seperti demikian.
Jadi, dapat
dikatakan bahwa hakikat merupakan makna sebenarnya dari segala sesuatu yang
menjadi dasar keberadaan sesuatu. Belajar pada hakikatnya adalah “perubahan”
yang terjadi pada diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas
belajar. Walaupun kenyataannya tidak semua perubahan termasuk kategori belajar.
Misalnya, perubahan fisik, mabuk, gila dan sebagainya.[13]
Pada hakikatnya
belajar merupakan proses kognitif yang mendapat dukungan dari fungsi ranah
psikomotor. Fungsi psikomotor dalam hal ini meliputi: mendengar, melihat,
mengucapkan. Apapun jenis dan manifestasi belajar yang dilakukan siswa, hampir
dapat dipastikan selalu melibatkan fungsi ranah akalnya yang intensitas
penggunaannya tentu berbeda antara satu peristiwa belajar dengan peristiwa
belajar lainnya.[14]
Belajar pada hakikatnya merupakan proses
yang dilalui oleh manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi,
ketrampilan, dan sikap. Disadari atau tidak, belajar merupakan proses yang
dijalani oleh setiap manusia, sejak lahir hingga akhir hayat. Kemampuan
manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia
dengan makhluk hidup lainnya.
Keaktifan
peserta didik ini tidak hanya dituntut secara fisik saja, tetapi juga dari segi
kejiwaan. Apabila hanya fisik peserta didik saja yang aktif, tetapi pikiran dan
mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan belajar tidak tercapai.
Ini sama halnya dengan peserta didik tidak belajar, karena peserta didik tidak
merasakan perubahan di dalam dirinya.[15]
Berangkat
dari pengertian tersebut, maka dapat dipahami bahwa belajar membutuhkan
hubungan dialogis yang sungguh-sungguh antara guru dan peserta didik, dimana
penekanannya adalah pada proses belajar oleh peserta didik (student
of learning), dan bukan pengajaran oleh guru (teacher of teaching).[16].
C. Hakikat Belajar Dalam Tinjauan Islam
Istilah yang lazim
digunakan dalam bahasa
Arab tentang kata
belajar adalah Ta’allama dan
Darasa. Al-Qur’an juga
menggunakan kata darasa
yang diartikan dengan mempelajari,
yang sering kali
dihubungkan dengan mempelajari
kitab. Salah satunya terdapat dalam surat al- An’am ayat 105:
وَكَذلِكَ نُصَرِّفُ الْآياتِ وَلِيَقُولُوا دَرَسْتَ وَلِنُبَيِّنَهُ
لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Dan
demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang ayat-ayat Kami agar orang- orang
musyrik mengatakan engkau telah mempelajari ayat-ayat itu (dari ahli kitab) dan
agar Kami menjelaskan al-Qur’an itu kepada orang-orang yang mengetahui.
Kata darasta yang berarti
”engkau telah mempelajari”, menurut Quraish Shihab yaitu membaca dengan seksama
untuk dihafal atau dimengerti.[17]
Belajar dalam Islam juga diistilahkan
dengan menuntut ilmu (Thalab al-’Ilm).
Dalam tataran istilah, tidak terdapat definisi secara eksplisit yang
diberikan oleh para pemikir Islam, baik klasik maupun kontemporer. Akan tetapi,
secara implisit bisa diambil dari pemikiran mereka, di antaranya adalah:
1.
Al-Ghazali
memberikan gambaran bahwa belajar merupakan usaha yang dilakukan dalam rangka
memperoleh ilmu kemudian mengaplikasikannya. Di sini Al-Ghazali menekankan
bahwa ilmu yang sudah didapatkan peserta didik akan bermanfaat dan memberikan
perubahan pada diri peserta didik apabila ia mau mengaplikasikannya.
2.
Al-Attas memberikan
isyarat bahwa belajar
adalah proses pencarian
ilmu dalam rangka membentuk manusia paripurna (insan kamil);
3.
A.
Busyairi Harits berpendapat bahwa belajar adalah berusaha mengeluarkan (upaya
dari dalam) sesuatu dengan kekuatan sampai menjadi perbuatan;
4.
Belajar islami
adalah perubahan perilaku
manusia sebagai proses
untuk menuju pada terbentuknya
insan kamil sebagai hasil dari ikhtiarnya untuk mengembangkan,
meningkatkan dan mengfungsionalkan potensi-potensi, alat-alat dan
hidayah-hidayah yang dianugerahkan oleh Allah secara proporsional dan optimal
dalam pelbagai aspek kehidupan, sebagai manifestasi dari rasa syukur kepada
Allah SWT.[18]
Dari beberapa pendapat di atas, maka belajar adalah proses pencarian
ilmu pengetahuan guna memfungsikan potensi yang termanifestasikan dalam
perbuatan sehingga terbentuk manusia paripurna.
Signifikansi Belajar
Islam memberikan perhatian sangat besar kepada ilmu pengetahuan,
sebagaimana yang dikatakan oleh Munawar Anees bahwa kata ilmu dalam al-
Qur’an disebut sebanyak
800 kali.[19] Sesungguhnya
kandungan al-Quran dan al-Sunnah
sendiri merupakan ilmu pengetahuan.
Konsekuensi logis dari perhatian terhadap ilmu pengetahuan, Islam
mendorong dan mewajibkan tiap muslim
untuk belajar.
Dalam tataran sosiologis, motivasi belajar tidak saja perintah Allah
dan rasul-Nya, tetapi lebih dikarenakan adanya tuntunan hidup yang selalu
berkembang menuju kesempurnaan dirinya. Belajar menjadi sebuah kebutuhan
manusia, baik secara individu maupun kelompok demi mencapai tujuan hidupnya di
dunia. Barang siapa yang ingin hidupnya bahagia di dunia maupun di akhirat
capailah dengan belajar dan menuntut ilmu.
Dalam konteks Islam, belajar adalah sebuah perintah, dan dogmatis
kepada pemeluknya, agar mentaatinya.[20]
Ada pendapat yang mengatakan bahwa belajar sebagai aktifitas yang tidak dapat lepas
dari kehidupan manusia, ternyata bukan berasal dari hasil renungan manusia
semata. Ajaran agama sebagai pedoman hidup manusia juga menganjurkan manusia
untuk selalu malakukan kegiatan belajar. Adapun
perintah belajar tercantum dalam Q.S Al-`Alaq 1-5 yang
berbunyi:
اِقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ
وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنسَانَ
مَا لَمْ يَعْلَمْ (5).
“Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang menciptakan sekalian
makhluk (1). Yang menciptakan manusia dari segumpal darah (2). Bacalah dan
Tuhanmu Maha Pemurah (3). Yang mengajarkan manusia melalui pena dan tulisan
(4). Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (5)”.
Ayat ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an memandang bahwa aktivitas
belajar merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dalam ayat terebut juga, manusia dituntun agar selalu
mendahulukan Allah dalam segala kegiatan, termasuk belajar. Oleh karenanya,
sangat bagus sekali ketika sebelum memulai pembelajaran, agar berdo`a kepada
Allah SWT terlebih dahulu.
Islam,
dalam hal belajar lebih menekankan terhadap signifikansi
fungsi kognitif (akal) dan fungsi sensori (indera-indera) sebagai alat-alat
penting untuk belajar, sangat jelas. Kata-kata kunci, seperti ya’qilun,
yatafakkarun, yubshirun, yasma’un, dan sebagainya
yang terdapat dalam Al-Qur’an, merupakan bukti betapa pentingnya penggunaan
fungsi ranah cipta dan karsa manusia dalam belajar dan meraih ilmu pengetahuan.[21]
Berikut
ini kutipan firman-firman Allah, baik yang secara eksplisit maupun implisit
mewajibkan orang untuk belajar agar memperoleh ilmu pengetahuan. Allah
berfirman:
…قُلۡ
هَلۡ يَسۡتَوِي ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَۗ إِنَّمَا
يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ
…Katakanlah: Apakah
sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?
Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Q.S. Al-Zumar:
9)
…يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan
Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Mujadalah: 11)
Dalam
ayat ini Allah berusaha menekankan perbedaan orang yang berilmu dengan yang
tidak berilmu. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan orang yang berilmu itu
berbeda dengan orang yang tidak berilmu. Orang yang berilmu itu mempunyai
kedudukan yang lebih tinggi. Dan hanya orang-orang yang mempunyai akallah yang
bisa menerima pelajaran.
Tuhan
memberikan potensi kepada manusia yang bersifat jasmaniah dan rohaniah untuk
belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan
umat manusia itu sendiri. Potensi-potensi tersebut terdapat dalam organ-organ
fisio-psikis manusia yang berfungsi sebagai alat-alat penting untuk melakukan
kegiatan belajar, diantaranya; Indera penglihat (mata), Indera pendengar
(telinga), dan Akal, yakni potensi kejiwaan manusia berupa sistem psikis yang
kompleks untuk menyerap, mengolah, menyimpan, dan memproduksi kembali item-item
informasi dan pengetahuan (ranah kognitif).[22]
Alat-alat
yang bersifat fisio-psikis itu dalam hubungannya dengan kegiatan belajar
merupakan subsistem-subsistem yang satu sama lain berhubungan secara
fungsional. Allah berfirman:
وَٱللَّهُ
أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡٔٗا وَجَعَلَ
لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفِۡٔدَةَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ
(النحل: ٧٨)
Dan Allah
mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun,
dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Q.S. Al-Nahl:78).
Demikian
pentingnya daya nalar akal dalam perspektif ajaran Islam, terbukti dengan
dikisahkannya penyesalan para penghuni neraka karena keengganan dalam
menggunakan akal mereka untuk memikirkan peringatan Tuhan. Allah berfirman:
وَقَالُواْ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ
نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ
Dan mereka
berkata: "Sekiranya Kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu)
niscaya tidaklah Kami Termasuk penghuni-penghuni neraka yang
menyala-nyala" (Q.S. Al-Mulk: 10).[23]
Saking pentingnya belajar menurut pandangan
islam sampai-sampai, dianjurkan untuk pergi meninggalkan kampung halaman jika
di tempatnya tidak menemukan guru untuk dia belajar. Seperti yang dikatakan
oleh Ibnu Ruslan dalam Syairnya:
مَنْ لَمْ يَكُنْ يَعْلَمُ ذَا
فَلْيَسْـأَلِ # مَنْ لَمْ يَجِدْ مُعَلِّمًا فَلْيَرْحَلِ
Barang siapa
yang tidak mengetahui tentang sesuatu maka sebaiknya bertanya # Barang siapa
yang tidak menemukan guru maka sebaiknya bepergian.
Muhammad Al-Ahdal menjelaskan di dalam bukunya
bahwasanya maksud “bepergian” diatas adalah “untuk belajar”.[24]
Ilmu tidak bisa didapatkan dengan berdiam diri
dan hanya menunggu di rumah, kita harus keluar mencari dan menuntut sehingga
kita mendapatkan ilmu yang kita inginkan.
عَبْدُ
اللهِ بنُ يَحْيَى بْنُ أَبِى كَثِيْرٍ قَالَ سَمِعْتُ أبِى يَقُوْلُ لَا
يُسْتَطَاعُ اْلعِلْمُ بِرَاحَةِ اْلجِسْمِ
Abdullah bin
Yahya bin Abu Katsir, dia berkata; aku mendengar ayah ku berkata; “Ilmu itu
tidak bisa diraih dengan mengistirahatkan badan (ogah-ogahan)”.[25]
1. Dasar
Belajar dalam Islam
Sebagaimana
pandangan hidup yang dipegang teguh Umat Islam Al-Qur’an dan Hadist, maka
sebagai dasar maupun filosofi bagi belajar adalah juga diderivasi dari dua sumber
tersebut, yang merupakan dasar dan sumber bagi landasan berpijak yang amat fundamental.
Sebagaimana Nabi pernah bersabda :
تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما
تمسكتم بهما كتاب الله وسنة نبيه
Susungguhnya telah aku tinggalkan
untukmu dua perkara, jika kamu berpegang teguh dengannya, maka kamu tak akan
sesat selamanya, yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.[26]
Hadis tersebut juga dikukuhkan oleh
banyak Al-Qur’an, antara lain surat Al-Ahzab: 71, yang berbunyi:
....... وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ فَقَدْ فازَ فَوْزاً عَظِيماً (71)
Barang siapa yang mentaati Allah dan
Rasul-Nya, sungguh ia akan mencapai kebahagiaan yang tinggi.
Ayat
tersebut dengan tegas menjelaskan, bahwa apabila manusia menata seluruh
aktivitas kehidupannya dengan berpegang teguh kepada prinsip Al- Qur’an dan
As-Sunnah, maka jaminan Allah adalah jalan yang lurus dan tidak akan kesasar,
dan juga mendapat kebahagian dunia dan akhirat, sebaliknya, jika manusia tidak
menata seluruh kehidupannya dengan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka
kesempitan akan meliputi dirinya, sebagaimana firman-Nya :
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً
ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
Barang siapa yang berpaling dari
peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit, dan kami halau pada hari
kiamat dalam keadaan buta. (Qs. Thaha : 124).
2. Tujuan
Belajar dalam Islam
Tujuan
belajar dalam Islam adalah untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Tujuan secara
spesifik adalah untuk mengaktualisasikan diri sebagai Abdullah (hamba Allah) dan khalifatullah (pemimpin). Niat belajar hendaknya adalah
mencapai keridlaan Allah SWT, memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat,
berusaha menerangi kebodohan pada diri sendiri dan orang lain, mengembangkan
dan melestarikan ajaran Islam dan mensyukuri nikmat Allah.
Belajar
dalam Islam juga mempunyai tujuan dalam rangka pengabdian kepada Allah. Oleh
karena itu, belajar mempunyai dimensi tauhid, yaitu dimensi dialektika
horisontal dan ketundukan vertikal.[27] Belajar dalam Islam juga bertujuan dalam rangka
mengembangkan sains dan teknologi dengan cara menggali, memahami dan
mengembangkan ayat-ayat Allah guna memberikan kemakmuran dan kesejahteraan
bersama sebagai khalifah Allah di bumi.
Dari
sini, diketahui bahwa orientasi belajar dalam Islam bukan semata- mata untuk
mendapatkan kekuasaan, atau
suatu yang bersifat
materi, melainkan lebih dari itu, yaitu untuk mendapatkan keridhaan-Nya
dan kemaslahatan bersama. Hal ini senada dengan pendapat al-Ghazali yang
menyatakan bahwa jika tujuan belajar adalah untuk memperoleh harta benda,
menumpuk harta, mendapatkan kedudukan dan sebagainya, maka ia akan
mendapatkan kecelakaan.
Oleh karena
itu, tujuan belajar
yang sebenarnya adalah untuk
menghidupkan syari’at Nabi dan mendidik akhlak peserta didik serta melawan hawa
nafsu yang senantiasa mengajak berbuat kejahatan (nafsu al-’amarah bi al-su’).
Dengan demikian, peserta didik akan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya, di
dunia maupun di akhirat.[28]
Jadi,
belajar di dalam perspektif Islam juga mencakup lingkup kognitif (domain
cognitive), lingkup afektif (domain affective) dan lingkup
psikomotor (domain motor-skill). Tiga ranah atau lingkup tersebut sering
diungkapkan dengan istilah: Ilmu amaliah, amal ilmiah dalam jiwa imaniah.
D. Hakikat
Belajar Dalam Tinjauan Psikologi
Belajar menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia merupakan suatu kata yang berasal dari kata dasar “ajar” yang
memiliki makna petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui. Adapun
pengertian belajar sendiri memiliki 3 makna, yaitu : 1) Berusaha memperoleh
kepandaian atau ilmu. 2) Berlatih. 3) Berubah tingkah laku atau tanggapan yang
disebabkan oleh pengalaman. [29]
Sedangkan
belajar menurut istilah sudah kami paparkan di atas menurut para ahli, yang
simpulannya adalah “belajar adalah
suatu proses kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh seseorang secara sadar
dalam berinteraksi dengan lingkungannya sehingga diperoleh kecakapan-kecakapan baru
yang relatif bersifat permanen yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku
didalam dirinya berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan”
1. Ciri-Ciri
Prilaku Hasil Belajar
Dalam hal ini, Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri
perubahan tingkah laku yang merupakan hasil dari belajar, yaitu sebagai
berikut;
a.
Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional).
Suatu perilaku digolongkan sebagai aktivitas belajar apabila pelaku menyadari
terjadinya
perubahan tersebut atau sekurang-kurangnya merasakan adanya suatu perubahan dalam
dirinya misalnya menyadari pengetahuannya bertambah.
b.
Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu).
Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam
diri seseorang berlangsung
secara berkesinambungan dan tidak statis. Satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan
selanjutnya akan berguna bagi
kehidupan atau bagi proses
belajar berikutnya.
c.
Perubahan yang fungsional.
Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan
hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun
masa mendatang.
d.
Perubahan bersifat positif dan aktif
Dikatakan
positif apabila perilaku senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh
sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Perubahan bersifat aktif berarti bahwa
perubahan tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan karena usaha individu
sendiri.
e.
Perubahan yang bersifat relatif permanen.
Perubahan
yang terjadi karena belajar cendrung menetap. Misalnya,
seorang anak dalam bermain sepeda setelah belajar tidak akan hilang begitu saja
melainkan akan terus dimiliki bahkan akan makin berkembang.
f.
Perubahan yang bertujuan dan terarah.
Perubahan tingkah laku dalam belajar mensyaratkan adanya tujuan yang akan
dicapai oleh
pelaku belajar dan terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-benar
disadari.
g.
Perubahan Perilaku Secara Keseluruhan
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan
semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan
keterampilannya.
2. Teori-Teori Belajar
Teori
belajar adalah seperangkat pernyataan umum yang digunakan
untuk
menjelaskan kenyataan mengenai belajar. Banyak teori
belajar
yang dapat digunakan para guru untuk berbagai keperluan belajar dan proses pembelajaran. Ada tiga pandangan
psikologi utama yang
akan diuraikan dalam
tulisan ini yaitu pandangan psikologi
Behavioristik, Kognitif, Humanistik.
a. Belajar Behavioristik
Menurut pandangan ini, belajar adalah perubahan tingkah laku,
dengan cara seseorang berbuat pada situasi tertentu. Yang dimaksud tingkah laku
disini ialah tingkah laku yang dapat diamati, berfikir dan emosi tidak menjadi
perhatian dalam pandangan ini, karena tidak dapat diamati secara langsung.
Diantara keyakinan prinsipil yang terdapat dalam pandangan ini ialah anak lahir
tanpa warisan kecerdasan, bakat, perasaan, dan warisan abstrak lainnya. Semua
kecakapan timbul setelah manusia melakukan kontak dengan lingkungan.
Menurut kaum
behavioris, perilaku adalah segala sesuatu yang kita lakukan dan bisa diamati
secara langsung; seperti, siswa membuat poster, guru tersenyum pada siswa, dan
sebagainya. Sedangkan, proses mental didefinisikan sebagai pikiran, perasaan,
dan motif yang kita alami namun tidak dapat dilihat oleh orang lain.[30].
Di bawah ini beberapa uraian tentang belajar oleh tokoh behavioristik;
a.
Edward Lee Thorndike (1874-1949 )
Menurutnya, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara
peristiwa-peristiwa yang disebut
stimulus
(S) dengan
respon
(R). Stimulus adalah suatu
perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi
atau berbuat sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan
karena adanya stimulus.
b.
Ivan Petrovich Pavlov (1849 - 1936)
Dari eksperimennya setelah pengkondisian atau
pembiasaan dapat diketahui bahwa daging
yang menjadi stimulus alami dapat digantikan oleh bunyi lonceng sebagai
stimulus yang dikondisikan. dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi
Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus
alami dengan stimulus yang tepat
untuk mendapatkan pengulangan
respon yang diinginkan.
c.
Burrhus Frederic
Skinner (1904 - 1990)
Dia meyakini bahwa
perilaku (termasuk belajar) dikontrol melalui proses operant conditioning. Yaitu
suatu proses penguatan perilaku operan (penguatan positif
atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali
atau menghilang sesuai dengan keinginan.
Aplikasi Teori Behavioristik Terhadap
Pembelajaran Siswa
Sebagai
konsekuensi teori ini, para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan
menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan
pembelajaran yang harus dikuasai siswa
disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberikan ceramah, tetapi
instruksi singkat yang diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan
pelajaran disusun secara hirarki dari yang sederhana sampai pada yang kompleks.
Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian-bagian kecil yang ditandai dengan
pencapaian suatu keterampilan tertentu.
Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan
diamati. Kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan
supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan
dari penerapan teori behavioristik ini adalah terbentuknya suatu perilaku yang
diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku
yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau penilaian
didasari atas perilaku yang tampak.
Metode
behavioristik ini sangat cocok untuk pemerolehan kemampuan yang membutuhkan praktek
dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan, spontanitas,
kelenturan, refleks, daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa
asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga, dan
sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang
masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi
dan harus dibiasakan, uka meniru
dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau
pujian.
b. Belajar Kognitif
Istilah cognitive berasal dari kata cognition
yang padanannya adalah kata knowing,
berarti mengetahui. Dalam arti yang luas, menurut Neisser sebagaimana dikutip
Muhibbin Syah dalam bukunya Psikologi
Belajar, cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan, dan penggunaan
pengetahuan.[31]
Selanjutnya istilah kognitif menjadi populer sebagai salah satu domain atau
ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan
dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah,
kesengajaan, dan keyakinan.[32]
Pendekatan psikologi kognitif menekankan
arti penting proses internal mental manusia. Tingkah laku manusia yang tampak,
tidak dapat diukur dan diterangkan tanpa
melibatkan proses mental. Semua bentuk perilaku termasuk belajar selalu
didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana
tingkah laku itu terjadi.
Setiap orang telah mempunyai pengalaman
dan pengetahuan di dalam dirinya. Pengalaman
dan pengetahuan ini tertata
dalam bentuk struktur kognitif.
Menurut teori ini, proses belajar
akan berjalan dengan baik bila materi pelajaran yang baru beradaptasi
(bersinambung) secara tepat dan serasi dengan struktur kognitif yang telah
dimiliki siswa.
Aplikasi Teori Kognitif
terhadap Pembelajaran Siswa
Misi dari pemerolehan pengetahuan
melalui strategi pembelajaran kognitif adalah kemampuan memperoleh,
menganalisis, dan mengolah informasi dengan cermat serta kemampuan pemecahan
masalah. Pembelajaran didesain lebih
berpusat pada peserta didik, bersifat analitik, dan lebih berorientasi pada
proses pembentukan pengetahuan dan penalaran.
Menurut teori belajar kognitif,
pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran
siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif
secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif
yang dimilikinya.
Ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan
kognitif adalah sebagai berikut.
1. Menyediakan pengalaman belajar dengan
mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar
melalui proses pembentukan pengetahuan.
2. Mengintegrasikan pembelajaran
dengan situasi yang
realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit,
misalnya untuk memahami suatu konsep siswa melalui kenyataan kehidupan
sehari-hari.
3. Melibatkan siswa secara emosional dan
sosial sehingga siswa menjadi menarik dan siswa mau belajar.
Tujuan pendidikan menurut teori belajar
kognitif adalah :
a. Menghasilkan individu atau anak yang
memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi,.
Guru bukan sumber belajar utama dan
Evaluasi belajar bukan pada hasil tapi pada proses yang telah dilalui dan dijalani siswa dan lebih
menfokuskan pada kesoksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalamannya. Bila
mengacu pada taksonomi Bloom, maka penilaian belajar bukan sekedar menguji
ingatan dan pemahaman siswa tetapi ditekankan
pada hasil analisis,
sintesis, evaluasi serta kesimpulan
siswa.
Contoh pembelajaran yang cocok
menerapkan teori kogitif antara lain pada pelajaran bahasa seperti mengarang,
menganalisis isi buku; matematika, fisika kimia atau biologi : yaitu
dengan metode belajar
yang berbasis masalah
(studi kasus), eksperimen,
IPS berupa observasi, wawancara
dan membuat laporannya. Kelas tidak didominasi oleh guru yang berceramah
tetapi penyediaan modul, tugas, praktikum, sarana audio visual, ketersediaan
buku-buku di perpustakaan, akses internet, diskusi, presentasi dan evaluasi
dari teman serta guru.
c. Belajar Humanistik
Menurut teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk
memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar telah
memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus
berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan
sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut
pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan utama para pendidik ialah membantu si siswa untuk
mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal
diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan
potensi-potensi yang ada pada diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanya
dua bagian pada proses belajar, ialah :
1. Proses pemerolehan informasi baru,
2. Personalisasi informasi ini pada individu
Aplikasi teori
Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit
selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran
guru dalam pembelajaran
humanistik adalah menjadi fasilitator bagi
para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar
dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan
mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang
memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri diharapkan siswa memahami
potensi diri, mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan
potensi diri yang bersifat negatif.
Untuk itu, guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba
memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah
perilakunya, guru harus berusaha mengubah keyakinan atau pandangan siswa yang
ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat
bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar
apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal
arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu, dengan kata lain individulah
yang memberikan arti kepada materi
pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk
memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya
dengan kehidupannya (Gayne & Briggs,).
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk
diterapkan untuk materi- materi pembelajaran yang bersifat pembentukan
kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena
sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa
senang, bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir,
perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang
bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya
sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau
melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.
Dalam mengembangkan teorinya, psikologi humanistik sangat
memperhatikan tentang dimensi manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya
secara manusiawi dengan menitik-beratkan pada kebebasan individu untuk
mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai-nilai, tanggung jawab
personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan.
BAB
III
PENUTUP
A.
Simpulan
1. Belajar adalah suatu proses kegiatan atau usaha yang
dilakukan oleh seseorang secara sadar dalam berinteraksi dengan lingkungannya
sehingga diperoleh kecakapan-kecakapan yang baru yang
relatif bersifat permanen yang
mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku didalam dirinya berupa
pengetahuan, sikap dan keterampilan.
2. Ciri – Ciri Dari Perubahan
Tingkah Laku: Perubahan yang
disadari dan disengaja (intensional). Perubahan yang berkesinambungan
(kontinyu). Perubahan yang fungsional. Perubahan yang bersifat positif.
Perubahan yang bersifat aktif, Perubahan yang bersifat relatif permanen,
Perubahan yang bertujuan dan terarah, Perubahan Perilaku Secara Keseluruhan.
3. Dalam konteks Islam, belajar adalah
sebuah perintah, dan dogmatis kepada pemeluknya, agar mentaatinya. Adapun perintah belajar tercantum
dalam Q.S Al-`Alaq 1-5. Al-Qur’an dan Hadist sebagai dasar maupun filosofi bagi
belajar.
4. Teori
belajar adalah seperangkat pernyataan umum yang digunakan
untuk
menjelaskan kenyataan mengenai belajar. Ada tiga pandangan
psikologi utama yang
akan diuraikan dalam
tulisan ini yaitu pandangan psikologi
Behavioristik, Kognitif, Humanistik.
5.
Menurut Behavioristik belajar adalah
perubahan tingkah laku, dengan cara seseorang berbuat pada situasi tertentu.
Yang dimaksud tingkah laku disini ialah tingkah laku yang dapat diamati.
6.
Pendekatan
psikologi kognitif menekankan arti penting proses internal mental manusia. Tingkah
laku manusia yang tampak, tidak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental.
7.
Menurut teori
humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar
dianggap berhasil jika si pelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya
sendiri
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi,
Abu dan Supriyono Widodo,. Psikologi Belajar, Jakarta:
Rineka Cipta. 2004
Aunurrahman, Belajar dan pembelajaran, Bandung, Alfabeta, 2012
Bigge. Morris, L, Learning Theories For Teacher, New York
Harper&Row, 1992.
Blom, Benjamin S, et. al, Taxonomy of Education Obyektive The
Classification of Education Goal, New York,
David McKey, 1994.
Bukhari, Muhammad bin Ismail, Al-Shahih al-Bukhari, Beirut:
Dar al-Fikr.tt.
Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya. Depag RI,
1990.
Depdikbud.. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2001
Dimyati & Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta,
Rineka Cipta, 2013
Djaali. H.. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008
Gintings, abdorrahman, Esensi praktis belajar dan pembelajaran,
Yogyakarta, humaniora, 2010.
Hergenhahn, B.R.,
Matthew H. Olson. Theories Of Learning, Jakarta, Kencana, 2009.
Makmun, Syamsudin Ibn., Psikologi Kependidikan,
Perangkat Sistem Pengajaran Modul,
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2007
Santrock, John W., Educational
Psychology, 2th Edition, Alih Bahasa Tri Wibowo, Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2011.
Shaleh, Abdul Rahman N, Psikologi. Jakarta: Prenada Media Group, 2008
Slavin, Robert E., Educational
Psycology: Theory and Practice, Alih Bahasa Marianto Samosir, Jakarta: PT
Indeks, 2008.
Soemanto, Wasty Psikologi Pendidikan,Bandung: PT. Rineka Cipta, 1990
Soemanto, Wasty, Psikologi
Pendidikan landasan Kerja Pemimpin Indonesia, Jakarta: Rineka Cipta, 2006.
Sukmadinata, Nana
Syaodih, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung, PT. Remaja
Rosdakarya, 2009.
Syah, Muhibin, 2009, Psikologi Belajar, Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Syah,Muhibbin, Psikologi
Belajar, Jakarta, PT. RajaGrafindo Persada, 2006.
Syah,Muhibbin, Psikologi
Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya,
2010
Uno Hamzah. B,. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran.
Jakarta: Bumi Aksara. 2008
Wahyuni
Baharuddin,.. Teori belajar dan Belajar. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2010
Winataputra, Udin S. dkk, Teori Belajar dan
Pembelajaran, Jakarta: Universitas Terbuka, 2007.
Woolfolk, Anita, Educational
Psychology Active Learning Edition, Alih Bahasa Helly Prajitno Soetjipto
dan Sri Mulyantini Soetjipto, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
[1] Abdorrahman Gintings,
Esensi praktis belajar dan pembelajaran,
(Humaniora: Yogyakarta, 2010), h.
[2] Sukmadinata, Nana
Syaodih, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, ( Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2009), h.
[5] B.R. Hergenhahn,
Matthew H. Olson. Theories of
learning edisi ketujuh, ( Jakarta: prenadamedia grup,
2008), h. 2
[6] Hilgard, E. R., & Bower, G.
H. Theories of learning, 1975
[7] B.R. Hergenhahn,
Matthew H. Olsonh.4. atau pada Bab
5
[8] Howard L. Kingsley, The Nature and
Condition of Learning (New Jersey:
Prentice Hall, Inc, Engliwood Clifts, 1957), h.12
[11] Arthur
Reber, Peguin Dictionary of Psychology (Ringwood Victoria: Peguin Book
Australia Ltd, 1988), h.32.
[13]Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi
Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta: 1996), h. 44
[15] Fathurrohman, Pupuh dan Sutikno,
Sobry.. Strategi Belajar Mengajar melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep
Islam. Cet. II, (Bandung: Refika Aditama. 2007),h. 9
[16] Sumadi Suryabrata, Proses Belajar
mengajar Di Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: Andi Ofset, 1999),h. 34
[17] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Vol.4, (Jakarta: Lentera Hati,
2001), h. 224.
[18] Sjahminan Zaini dan Muhaimin. Belajar Sebagai Sarana Pengembangan Fitrah Manusia (Jakarta: Kalam Mulia, 1991), hlm. 13
[19] Jumberansyah Indar, “Konsep Belajar Menurut Pandangan Islam”, (Jurnal Ulul Albab. Vol 3. no. 2. 2001), hlm. 35
[20] Hamad Syafi’i Maarif, “Posisi
Umat Islam Terhadap Perkembangan Teknologi Modern”, dalam Ahmad
Busyairi dan Azharuddin Sahil (peny.), Tantangan Pendidkan Islam
Yogyakarta, LPM UII, 1997.h, 93
[21]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan
dengan Pendekatan Baru, (Bandung, PT. Remaja Rosdakarya: 2010), h.
98-99
[24]Muhammad
Al-Ahdal, Ifadah Al-Sadah Al-Umad, (Lebanon, Dar Al-Minhaj: 2006), h.
102
[25]Muslim Bin
Hajjaj, Shahih Muslim, (Lebanon, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah: 2008), h. 347
[26] Salim Bahreisy,
Terjemah Riyadh al-Shalihin, (Bandung,: Al-Maarif, 1998), h. 68
[27] Jumberansyah
Indar. “Konsep Belajar Menurut Pandangan Islam”.( Jurnal Ulul
Albab. Vol 3. no. 2 ,2001), h.35
[30]
John W. Santrock, Educational Psychology, 2th Edition, Alih
Bahasa Tri Wibowo, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), h.266.
[32]Muhibbin
Syah, Psikologi Belajar, h. 23.
2 komentar
Warning!! SPAM has been detected!
Warning!! SPAM has been detected!
EmoticonEmoticon